Hari keseratus empat puluh dua: Bandung dari Jendela
Bandung dari JendelaAgak miring beberapa derajat ke kiri, namun inilah Bandung ditilik dari jendela lain. [3cc]
Ziarah ke Bandung
Ada yang telah mati di sana, namun apa dan bagaimana persisnya, entahlah. [3cc]Perpustakaan Baru UI Depok
Sekilas dilihat dari jauh, bangunan ini seolah berada di salah satu negara yang sudah maju. Terletak di dekat Danau Kenanga, bangunan ini menempati area seluas 3 hektar. Perpustakaan ini konon dirancang untuk hemat energi dan air, salah satunya dengan memaksimalkan pencahayaan alami. Secara desain, saya jadi ingat Museum Guggenheim di Bilboa yang kiranya telah menjadi inspirasi bentuk bangunan post-modern lain (apa sebenarnya arti post-modern, entahlah.. Hehehe).Untuk urusan gagah-gagahan secara fisik, bolehlah bangunan ini dibanggakan. Namun menilik lebih lanjut jeroannya, memang terasa teralu ambisius. Rencana untuk memboyong koleksi buku tiap perpustakaan fakultas yang ada kiranya akan berdampak buruk pada efektifitas dan efisiensi dosen/mahasiswa per fakultas. Bagi civitas akademik fakultas hukum mungkin bukan masalah besar, karena letak perpustakaan ini sepelemparan batu saja dari fakultas mereka. Apa kabar dengan anak MIPA yang mesti berjalan nyaris setengah jam untuk membaca sebuah buku? Yang lebih substansial lagi, dengan 'dirampasnya' koleksi buku perpustakaan fakultas, sama saja dengan mematikan laboratorium riset fakultas.Bergeser sedikit, tengoklah fakultas ilmu komputer: gedung kuliah utamanya lebih mirip rumah susun dengan developer yang setengah hati. Ini yang dimaksud dengan 'terlalu ambisius' tadi. Sempat terdengar pula wacana untuk membangun cineplex dan fitness center di bagian perpustakaan yang belum punya nama populer ini. Hey, ini lagi bahas perpustakaan atau gedung baru DPR? Tapi sekali lagi, jika bicara urusan pencitraan, perpustakaan ini agaknya akan menjulang. Tampaknya rektor UI kini belajar banyak dari presidennya.Perpustakaan pusat yang lama telah gagal menjadi sebuah laboratorium riset yang memadai. Dari 5 lantai bangunan itu, hanya satu lantai berisi koleksi buku yang secara kuantitas dan kualitas cukup menyedihkan. Jangan sampai hal ini terulang pada perpustakaan baru nan megah lagi gagah ini.. [3cc]Masjid Raya Baiturrahman
Hanya semalam di NAD, mencoba gulai kambing yang konon ada bakungnya (saya agak anti kambing tapi nambah), Mie Simpang Lima, ngopi di Ulee Kareng, lihat bangkai PLTD. Tak lupa mampir ke ikon NAD, Masjid Raya Baiturrahman. [3cc]